Beranda Komunitas SESUAI FITRAHNYA, ISLAM KAFFAH MENJADI UMATAN WASATON "ISLAM MODERAT" MENINGGALKAN RADIKALISME

SESUAI FITRAHNYA, ISLAM KAFFAH MENJADI UMATAN WASATON “ISLAM MODERAT” MENINGGALKAN RADIKALISME

- Advertisement -

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia & Aam Abdul Salam S.Ag (Ketua Umum & Sekjen DPP Barisan Islam Moderat – BIMA)

Bismillahirrahmanirrahiim.

Mudah-mudahan tahun baru 2021, Umat Islam dan bangsa Indonesia, mempunyai pikiran positif, cerdas dan optimis, terutama untuk dapat mengatasi pandemi Covid-19, hingga kembali kepada kehidupan normal, dan kita semua Umat Islam, tentu merindukan shalat berjama’ah di mesjid, kembali bisa merapatkan barisan (shaf). Aamiin YRA. Dan Alhamdullillah, tepat 1 Januari, DPP Barisan Islam Moderat ( BIMA) bisa membuat satu tulisan, yang merupakan refleksi bagi pencerahan IDEOLOGIS bagi Umat Islam dan bangsa Indonesia.

Kita bisa melihat carut marut di negeri ini, tidak pernah berhenti walau satu detik, setiap hari arus informasi terus mengoyak relung hati, dan pikiran setiap pemegang smartphone, dimanapun dia berada.

Lalu apa yang menjadi pilihan menjadi galau, tidak jelas arah, padahal jelas sekali bagi seorang Muslim punya uswatun hasanah, contoh terbaik, siapa lagi kalau bukan Baginda Nabi, Rasullullah Muhammad s.a.w., dengan barometer Al-Qur’anul Karim.

Kegalauan itu terlihat manakala banyak sekali Umat Islam yang membebek dengan pemahaman-pemahaman yang jelas-jelas salah, apalagi kalau bukan pemahaman menyimpang dengan memproduksi kebencian yang tiada henti, dengan anak pinak sinisme, su’udzon, caci maki, fitnah, keras, kasar dan sadis. Inilah yang sering di sebut dengan radikalisme, seribu kali disampaikan dan di ingatkan akan bahaya akut radikalisme yang akhirnya akan bermuara kepada terorisme, mereka tetap buta hati dan menutup telinga, mereka pakai mata kuda. Pemahaman-pemahaman ini terlihat kasat mata di awali dengan mudahnya melontarkan tuduhan-tuduhan di antara sesama umat Islam sendiri, dengan kata-kata Kafir dan Munafik, akibat tidak sepaham dengan apa yang diyakininya. Mereka sama sekali tidak bisa menerima perbedaan, dan atau yang di lihat selalu perbedaannya bukan persamaannya.

Radikalisme ini pun semakin mengkristal, karena diperalat dan di beri bensin oleh kepentingan-kepentingan politik, sehingga mereka menjadi semakin berani dan kuat mengibarkan keradikalannya, menghantam siapapun yang menghalang-halangi, gerak langkahnya.

Radikalisme tidak peduli akan hancurnya Indonesia, yang penting bagi mereka bisa menegakkan sistem yang di yakininya benar sebagai Islam Kaffah menurut pemikiran konservatif Ortodoksnya, bahkan radikalisme menganggap Pancasila dan UUD 1945 itu adalah aturan kafir, yang banyak kelemahan. Kalaupun mereka mengakui, sebetulnya mereka tidak ikhlas menerima, hanya kamuflase saja, yang sesungguhnya hatinya tidak senang dengan aturan-aturan tersebut, mereka menganggap rendah, dan di anggapnya Pancasila dan UUD 1945, terlebih Demokrasi hanya aturan manusia saja, bukan aturan Allah Swt. Bahkan simbol negara Burung Garuda dan Bendera Merah Putih juga di anggapnya Berhala.

Dan apa hasil dari Jihad Fii Sabillillahnya Radikalisme ? adalah hancurnya peradaban Islam, mengalirnya darah korban jutaan dan penderitaan kaum muslim di mana-mana, kita bisa melihat nasib rakyat Afganistan, Irak, Libya, dan Syria. Semua bencana dan nestapa ini berawal dari pemikiran-pemikiran Islam yang salah arah, dengan pemikiran-pemikiran konservatif Ortodoks Radikal.

Cikal Bakal Radikalisme

Bapak moyang dari radikalisme dalam histori peradaban Islam, darimana lagi kalau bukan dari pemahaman kaum Khowarij yang pada sa’at itu tega dan sadis membunuh manusia-manusia paling sholeh seperti Khalifah Utsman bin Affan r.a dan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a., dan figure yang paling di kenal bapak moyangnya dari radikalisme ini, adalah pembunuh yang memenggal kepala Ali bin Abi Thalib r.a, dia adalah Abdurrahman bin Muljam, dia adalah salah seorang sahabat Nabi s.a.w., yang salah dalam memahami Islam, walaupun sudah hafal Al-Qur’an, dan bacaannya pernah di puji oleh Nabi s.a.w. tapi karena pemahaman yang salah, hingga dia tega melakukan perbuatan sangat keji dan biadab. Demikianlah Iblis dan Syeitan menggoda manusia, membisik-bisikan pemahaman menyimpang dari ajaran Islam itu sendiri. Apa artinya teriakan Allahu Akbar, kalau di pakai untuk memenggal kepala Ali bin Abi Thalib r.a. ?

Sama saja seperti Burung Beo, …burung beopun, bisa mengucapkan Allahu Akbar, tapi tidak memahami ucapan itu untuk apa di gunakan.

Astaghfirrullahal adziim.

Dan bagaimana kita, yang juz am’ma saja tidak hafal, tentu Syeitan dan Iblis lebih mudah menjerumuskan kita semua kepada pemahaman yang salah ini. Namun jangan khawatir, karena yang terpenting di dalam ISLAM itu bukan dari hafal jumlah ayatnya, dan bagus bacaannya, tapi yang paling penting adalah memahami prinsip-prinsip ISLAM dengan benar, kemudian baru disempurnakan. In Shaa Allah Barisan Islam Moderat ( BIMA ) akan selalu berupaya memberikan pencerahan IDEOLOGIS bagi Umat Islam, agar memiliki kekuatan pemahaman Islam yang benar. Aamiin YRA.

Tanda-tanda Radikalisme

Berhati-hatilah, tanda-tanda pemahaman radikalisme ini mudah terlihat, manakala sudah menebar pikiran-pikiran negatif terkait kondisi sa’at ini, dan mereka mengkonotasikan dengan kondisi sa’at ini sebagai kondisi jahiliyah, menurut anggapan mereka zaman sekarang sama halnya seperti di zaman Rasullullah s.a.w., yang sudah meyakini agama tauhid Nabi Ibrahim a.s, namun sa’at itu mereka mengikuti hawa nafsunya, oleh karena itu kalau mau masuk Syurga harus ikut aliran dan pemahamannya, jangan ikut arus masyarakat Jahiliyah. Demikianlah pengkondisian awal pemikiran radikalisme mengkonotasikan zaman sekarang di Indonesia sama dengan zaman Jahiliyah, padahal berbeda sekali zaman jahiliyah di mekah tidak ada orang yang sujud menyembah Allah Swt., tapi mereka menyembah patung berhala Lata, Uza dan Manat yang di simpan di dalam Ka’bah, dan peradabannyapun sangat biadab, sebagai contoh mereka meyakini setiap punya anak perempuan adalah hina, oleh karena itu untuk menjaga kehormatannya bayi perempuan itu harus di kubur hidup-hidup. Dan yang terkenal pernah melakukan perbuatan keji ini, sebelum masuk Islam adalah Umar bin Khatab r.a. Dan di zaman Jahiliyah jangankan bisa Shalat, ketahuan mengatakan Kul huwalahu Ahad saja langsung di bunuh. Jadi jauh sangat berbeda sekali, jaman jahiliyah dengan zaman sekarang, di jaman jahiliyah selain musyrik penyembah patung, perbuatan-perbuatannyapun sangat biadab. Sementara di zaman sekarang, di Indonesia, sesalah-salahnya umat Islam, pasti masih melakukan sujud kepada Allah Swt. Kalau banyak berbuat salah itu pasti, karena manusia tempatnya berbuat salah, tapi setidaknya, jauh berbeda tidak seperti peradaban zaman jahiliyah, peradaban sekarang tentunya jauh lebih baik.

Memprihatinkan sekali pemikiran-pemikiran konservatif ortodoks radikal ini, mewarnai ummat Islam di Indonesia, dan mereka sulit sekali untuk out off the box, seperti katak di dalam tempurung, padahal Islam sebagai Rahmatan lil Alamin yang di ajarkan oleh Rasullullah Muhammad s.a.w., dengan tolok ukur Al-Qur’an, sangat luas luar biasa, dan tidak terbatas dengan ruang dan waktu.

Ibrah dan Sunah Rasullullah Nabi Muhammad s.a.w.

Dalam pemahaman yang benar sesuai sunah Nabi s.a.w., Islam itu adalah agama yang mengedepankan, kasih sayang dan Cinta terhadap sesama manusia. Dengan rasa kasih sayang dan Cinta inilah sehingga Rasullullah Muhammad s.a.w., menjadi manusia paling Agung di Dunia. dan dengan hati yang suci dipenuhi rasa kasih sayang dan Cinta, sehingga Muhammad s.a.w mendapat julukan Al-Amin (terpercaya) karena Rasullullah Muhammad s.a.w., tidak pernah bohong, dan selalu bicara apa adanya, dengan pandangan-pandangan yang sangat mulia dan bijaksana. Dari pribadi Agung Rasullullah Muhammad s.a.w., inilah tumbuh kesabaran yang tiada duanya, dan hal inilah yang menjadikan Kekuatan dahsyat dari da’wahnya. Sebagai contoh, salah satu hikayat Nabi s.a.w yang paling di kenal, manakala Rasullullah s.a.w., di lempari batu oleh suku Tha’if, hingga bersimbah darah, apa yang keluar dari ucapan Rasullullah s.a.w., hanya do’a dan do’a bagi kebaikan suku Tha’if, walau pada sa’at itu malaikat Jibril menawarkan Gunung Uhud untuk di lemparkan kepada suku Tha’if, jika Rasullullah s.a.w menghendaki. Dalam bersimbah darah menahan rasa sakit Rasullullah s.a.w., wajahnya tetap teduh dan tersenyum, mohon kepada Allah Swt., agar suku Tha’if mendapat Taufik dan Hidayah untuk bisa sujud kepada Allah Swt., dan pada akhirnya suku Tha’if semuanya masuk Islam, karena sangat tersentuh hatinya melihat keagungan Akhlak dari Baginda Nabi s.a.w.

Dan walau pada zaman Nabi s.a.w., diterapkan hukum rajam dan potong tangan, dan melakukan peperangan berkali-kali dalam rangka mempertahankan dan memperjuangkan Islam. Namun di dalam sejarahnya Nabi s.a.w, tidak ada satu riwayatpun kalau nabi s.a.w memotong tangan ataupun membunuh dalam satu peperangan, karena memang Nabi s.a.w., jiwanya sangat lembut dan suci, pasti tangannya tidak akan pernah sanggup melakukan perbuatan kotor, apapun alasannya, kalaupun harus dilakukan, yang melakukannya adalah para sahabat yang selalu setia melindunginya, bukan oleh tangan Nabi s.a.w., itulah salah satu bukti kenabiannya. Adapun hukum yang keras, yang di tegakkan sa’at itu oleh Nabi s.a.w., adalah sesuai perintah Allah Swt., yang memang sangat tepat untuk di berlakukan pada masyarakat Jahiliyah, yang peradabannya sangat biadab dan bar-bar.

Umatan Wasaton

Karena keagungan Nabi s.a.w., sebagai Uswatun Hasanah dan Rahmatan lil Alamin inilah sehingga Allah Swt., memberikan barometer kepada Umat Islam, untuk memahami agama ISLAM dengan benar, melalui satu ayat di dalam Al-Qur’an yang merupakan cahaya agung bagi Umat Islam, sebagai prinsip dasar untuk pemahaman Islam yang benar.

Ayat manakah itu? Ayat 143 di dalam Surat Al-Baqarah, Allah Swt. Berfirman :

Wa kadzalika ja’alnakum UMMATAN WASATON, litakunu syuhadaa alannas, wayakuna Rasulu alaikum syahida

Dan telah aku jadikan kalian (ummat Islam) sebagai UMATAN WASATON (golongan tengah/moderat/orang2 bijaksana), agar kalian (ketika hidup di dunia) menyaksikan (menimbang dengan cermat) atas perbuatan manusia, dan agar Rasul menyaksikan atas perbuatan perbuatan kalian. ( sebagai saksi di akherat kelak )

Demikianlah ayatnya, dan ayat ini sangat luar biasa, menunjukkan Mu’zizat Allah Swt., sangat terukur, bayangkan jumlah ayat di Surat Al-Baqarah (surat terpanjang) adalah 286 ayat, dan jika di bagi dua adalah 143, tepat di pertengahan Surat, Allah Swt., menempatkan kata WASATON (pertengahan). Allahu Akbar, begitu teratur rapinya ayat-ayat Al-Qur’an, hingga kata per kata, tepat tempat dan ukurannya.

Dari ayat ini, kita dituntut oleh Allah Swt., sesuai fitrah penciptaannya agar betul-betul kritis dalam melihat berbagai situasi, masalah dan kejadian. Kemudian harus mampu kokoh berada di tengah memandang segala sesuatu secara adil dan bijaksana. Kokoh berada di tengah dengan adil dan bijaksana inilah yang merupakan,
Ihdinashiratol Mustaqim atau jalan yang lurus, jalannya para Nabi dan Rasul. Dengan berpegang teguh kepada keadilan dan kebijaksanaan ini, maka Umat Islam tidak akan terjebak dan terperosok masuk jurang terbawa arus Ekstra Radikal Kanan, ataupun arus Ekstra Radikal kiri.

Alhamdullillah Indonesia, adalah tempat yang diciptakan oleh Allah Swt., yang menandakan akan tumbuh suburnya Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang Bijaksana, karena alamnyapun Indonesia sudah menunjukkan golongan tengah. Alam Tropis adalah alam pertengahan yang tidak panas seperti di padang pasir, ataupun tidak dingin seperti di daerah kutub. Dan selain tanda alam ini, Indonesia sudah mempunyai aturan-aturan yang melarang Ekstra Radikal kiri hidup, terkait pelarangan PKI, dan melarang Ekstra Radikal kanan hidup, terkait pelarangan DI/TII. HTI dan terakhir FPI. Jadi jelas sistem yang berjalan di Indonesia adalah sistem Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang Bijaksana.

Siyasah (politik) dan Syari’at (hukum) menurut pandangan Umatan Wasaton.

Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang Bijaksana, berpandangan bahwa yang mutlak tidak boleh berubah sama sekali adalah Tauhid, Iman dan Akhlak, sementara Siyasah dan Syari’at bisa berubah dengan syarat tetap mengacu kepada Al-Qur’anul Karim.

Jadi bagi Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang Bijaksana, sangat terbuka lebar untuk berijtihad, berkaitan dengan Siyasah (politik) dan Syari’at (hukum), selama tetap berpijak kepada Al-Qur’an dan juga Al-Hadist sebagai tafsir penjelasan terhadap Al-Qur’an, jika diperlukan, oleh karena itu Al-Hadist tidak boleh berdiri sendiri dan lepas dari Al-Qur’an.

Al-Qur’an sangat memberikan ruang yang luas bagi alternatif Siyasah dan Syari’at untuk dilakukan Ijtihad di dalam menghadapi berbagai ragam bentuk peradaban kehidupan manusia, terlebih di akhir zaman, abad modern ini. Tentu saja ijtihad yang dilakukan Umatan Wasaton/Islam Moderat, adalah upaya dan Jihad untuk Li ila-i Kalimatillah (Meninggikan Kalimah Allah Swt) sesuai dengan fitrah Islam, yang Ya’lu wala Yu’la alaih ( Islam itu di atas, dan di atas segalanya ). Dan pandangan-pandangan Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang Bijaksana ini, bisa di lihat dari beberapa aspek pemikiran jalan tengah dan pandangan bijaknya sebagai berikut :

Pandangan bijak terhadap Pancasila dan UUD 1945

Dalam perjalanan konstitusi Indonesia, tidak akan pernah lahir Pancasila, dan UUD 1945, tanpa adanya Piagam Jakarta yg di susun, di tanda tangani dan di sah-kan pada tgl 22 Juni 1945, oleh 9 (sembilan) orang anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang anggotanya adalah : 1. Haji Ir. Soekarno, 2. Alex Andries Maramis (pendeta kristiani) 3. Haji Abdul Wahid Hasyim ( NU ) 4. Haji Achmad Soebardjo ( SI ) 5. Abikoesno Tjokrosoejoso ( SI ) 6. Haji Agus Salim 7. Haji Abdul Kahar Muzakkir ( Muhammadiyah ) 8. Haji Muhammad Hatta 9. Haji Mohammad Yamin.

Isi piagam Jakarta sama persis dengan Pembukaan UUD 1945, dengan perbedaan hanya di sila pertama dari Pancasila, yaitu Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, dirubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Perubahan ini adalah merupakan kebesaran hati dan Siyasah Umat Islam melalui The Founding Fathers, agar dasar negara bisa di terima oleh semua pemeluk agama yang ada di Indonesia, esensinya sama saja, dan tetap sesuai dengan Islam, karena Asma Allah tetap menjadi kata kunci dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa….dst.

Sesuai dengan pemahaman Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang Bijaksana, tentu saja dasar negara kita Pancasila dan UUD 1945, sangat clear adalah Islam; hasil ijtihad para Ulama, dengan Isi dan Ruhiyahnya adalah Al-Qur’anul Karim. Kedudukan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, sama halnya seperti konstitusi tertua di zaman Rasullullah Nabi Muhamad s.a.w., yaitu Perjanjian Hudaibiyah dan Piagam Madinah, pada sa’at itu konstitusi ini berlaku antara Umat Islam, Non Muslim dan Kafir Quraisy. Perjanjian Hudaibiyah dan Piagam Madinah tentunya sesuai dengan Al-Qur’anul Karim, karena di buat oleh Nabi s.a.w beserta para sahabatnya untuk menciptakan kehidupan yang damai di Madinah dan Mekah.

Dengan demikian Umat Islam bisa meyakini bahwa Indonesia adalah Negara Islam, tentunya dengan pemahaman Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang Bijaksana, bukan pemahaman Islam Radikal.

Al-Qur’an mengisyaratkan : Hukuman Penjara, adalah alternatif dari Hukuman Rajam, dan Potong Tangan

Pemikiran Konservatif dan Ortodoks Radikal, selalu membenturkan terkait hukuman penjara yang berlaku di Indonesia, tidak sesuai dengan yang di jalankan oleh Rasullullah Muhammad s.a.w., dengan hukuman potong tangan bagi pencuri dan hukuman rajam bagi penzina. Oleh karena itu dengan gampangnya men-cap Indonesia sebagai negara Kafir karena memakai Hukumnya orang-orang kafir. Secara sepintas jika tidak kritis, serangan-serangan pemikiran sempit semacam ini, sangat mengganggu keyakinan Umat Islam, sehingga tidak merasa nyaman dengan perundang-undangan yang ada di Indonesia, dan dari kegalauan inilah membuat Umat Islam mudah di giring kepada gerakan-gerakan Radikalisme. Padahal kalau di buka wawasan yang lebih luas, dan betul-betul meneliti Al-Qur’an, sebagai sumber dari segala sumber hukum Islam. Di sana sangat jelas, Al-Qur’an pun mengisyaratkan hukuman penjara, yang sangat detail di ceritakan dalam hikayat Nabi Yusuf a.s., dalam satu surat khusus, yaitu Surat Yusuf.

Nabi Yusuf a.s., di ceritakan di dalam Al-Qur’an di hukum penjara karena di fitnah oleh isteri majikannya Siti Julaeha, dengan tuduhan memperkosa dia. Coba bayangkan kalau Nabi Yusuf a.s., sa’at itu oleh raja/pemerintah, di hukum rajam (hukuman mati dengan di lempari batu), dan di kemudian hari terbukti bahwa telah terjadi fitnah, lalu siapa yang bisa mengembalikan nyawa Nabi Yusuf a.s untuk merehabilitasi hukuman ? adilkah hukuman rajam bagi Nabi Yusuf a.s., tentunya tidak adil, inilah kelemahan hukuman mati, seandainya terjadi fitnah, maka hukuman mati/rajam tidak bisa merehabilitasi hukuman yang sudah terjadi.

Kemudian ketika Nabi Yusuf a.s., menjadi raja, dan ketika itu Nabi Benyamin a.s., adik dari Nabi Yusuf a.s., beserta kakak-kakaknya, yang belum mengetahui bahwa yang jadi raja itu adalah Yusuf a.s., karena di pisahkan puluhan tahun dari sejak Nabi Yusuf a.s kecil. Mereka meminta makanan kepada Raja, karena negerinya di landa kelaparan. Dan raja mengabulkan permintaan mereka, namun Nabi Yusuf a.s, tau bahwa mereka adalah Nabi Benyamin a.s beserta saudara2nya, dan karena Nabi Yusuf a.s., ingin tetap dekat dengan Nabi Benyamin a.s., maka dia memfitnah, dengan memasukan piala raja (tempat minum) yang terbuat dari emas, ke dalam karung makanan yang di pikul Nabi Benyamin a.s., dan ketika di periksa semua karung makanan tersebut, maka Nabi Benyamin a.s tertuduh mencuri piala raja, dan di kenai hukuman penjara. Bayangkan kalau Nabi Benyamin a.s., di hukum potong tangan karena tuduhan mencuri, dan di kemudian hari terbukti tuduhan itu fitnah, siapa yang bisa merehabilitasi hukuman untuk mengembalikan tangan yang sudah di potong ?

Demikianlah kelemahan hukuman mati/rajam dan potongan tangan, jika terjadi fitnah tidak bisa merehabilitasi hukuman. Dan apakah Indonesia salah memakai sistem hukuman penjara ? ya tentu saja tidak, bahkan sangat tepat dan sesuai dengan sumber dari segala sumber hukum Islam, apalagi kalau bukan Al-Qur’anul Karim, dengan Isyarat Hikayat Nabi Yusuf a.s. Sekali lagi pandangan Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang bijaksana, bisa melihat bahwa di zaman Rasullullah s.a.w, tepat memakai hukuman rajam dan potong tangan, tapi di zaman modern yang penuh fitnah ini, sangat tepat memakai hukuman penjara, dan kedua bentuk hukuman ini, ada tercatat di dalam Al-Qur’an, dan Umat Islam boleh memilih bentuk hukuman yang akan di terapkan. Karena sekali lagi di dalam pandangan Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang Bijaksana Siyasah dan Syari’at itu bisa berubah asalkan tetap berpedoman kepada Al-Qur’anul Karim.

Islam dan Demokrasi

Radikalisme kembali membuat frame bahwa sistem barat adalah kafir, karena kedaulatan itu ada pada Allah Swt., bukan di tangan Rakyat, oleh karena itu Demokrasi itu haram hukumnya, setiap sistem kafir, pasti hasilnya Mudhorot (buruk). Hal-hal semacam ini terus menjadi produk Radikalisme di dalam menggiring Umat Islam untuk menyokong semua kepentingan dan gerakannya, padahal Islam itu dasarnya Al-Qur’an, dan Al-Qur’an mengajarkan pondasi Demokrasi yang namanya Musyawarah, secara khusus di dalam Al-Qur’an ada Surat yang namanya Syurat Assyura, Surat ke 42, artinya Musyawarah, dan di dalam surat Al Imran, ayat 159, Allah tegas sekali memerintahkan agar Umat Islam Bermusyawarah : Maka berkat Rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar (Radikal), tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. ( S. Ali Imran 159 ).

Jelas sekali dalam ayat di atas, bahwa Islam mengajarkan prinsip bermusyawarah dengan landasan hati yang lemah lembut di penuhi kasih sayang dan Cinta, dan melarang sama sekali kekerasan dan kasar, atau Radikalisme. Dan musyawarah ini adalah tonggak demokrasi, manakala jumlah manusia yang bermusyawarah sudah sangat banyak, terlebih Indonesia yang memakai sistem Republik dengan Kedaulatan ada di tangan rakyat, sudah barangtentu musyawarah di aplikasikan dengan Demokrasi, dengan sistem perwakilan melalui pemilu, bahkan sekarang untuk menetapkan presiden dan kepala daerah dilakukan pemilihan langsung. sungguh demikian agungnya sistem perundang-undangan di Indonesia yang memanifestokan kedaulatan rakyat melalui demokrasi, yang prinsip dasarnya adalah ajaran dari Al-Qur’an, terkait perintah untuk bermusyawarah. Maka logikanya suara rakyat adalah suara Allah Swt., karena Allah Swt., memerintahkan untuk bermusyawarah bagi Umat Islam bersama non Muslim. Dan kita tau jumlah Umat Islam di Indonesia mencapai 90% dari jumlah penduduk yang ada. Dari logika berdasar kepada Al-Qur’an inilah sehingga Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang bijaksana, menilai bahwa tuduhan-tuduhan Radikalisme bahwa Demokrasi bukan ajaran Islam, justeru Umatan Wasaton/Islam Moderat berpandangan sebaliknya Demokrasi adalah ajaran Islam, dengan keyakinan suara Rakyat adalah suara Allah Swt., berdasar kepada perintah Allah Swt., untuk bermusyawarah.

Khilafah Moderat

Khilafah terakhir bagi Umat Islam adalah Khilafah Turki Utsmani, dengan pusat pemerintahan di Turki. Pemerintahan Global semacam ini secara alamiah tidak mampu mempertahankan kekuasaannya, termasuk di luar Islam, pemerintahan komunis Uni Soviet. Khilafah dan Uni Soviet berkuasa hampir separuh dunia, keduanya akhirnya ambruk, akibat di peradaban zaman modern sudah tidak sesuai lagi, karena lebih besar pasak daripada tiang, karena subsidi dari pusat pemerintahan jauh lebih besar daripada upeti dari daerah-daerah kekuasaannya, akhirnya pemerintah pusat bangkrut tidak mampu lagi mengurus daerah-daerah kekuasaannya yang terlalu besar. Begitulah secara alamiyah Khilafah (kanan) dan Uni Soviet (kiri) ambruk, dan hancur berantakan.

Sekarang radikalisme bermimpi untuk menghidupkan kembali khilafah, ya sudah barangtentu mustahil kalau untuk mendirikan khilafah secara konservatif ortodoks. Islam itu melalui Al-Qur’an sudah sangat sempurna, oleh karena itu tidak ada satu ayatpun di dalam Al-Qur’an perintah bagi Umat Islam untuk mendirikan Khilafah. Artinya apa, siyasah itu bisa berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi yang ada, termasuk khilafah bisa berubah bentuk. Khilafah itu adalah siyasah yang tepat pada masa lalu, sedang peradaban modern otomatis sudah tidak sesuai lagi, karena tidak ada satu bangsapun di dunia ini, yang sekarang sudah berbentuk negara-negara, semuanya tidak ada yang mau menerima di bawah kekuasaan bangsa lainnya, peradaban modern menghendaki kesetaraan derajat dan kesejajaran bagi seluruh bangsa dan negara yang ada, dengan berbagai sistem pemerintahan masing-masing. Oleh karena itu jika Umat Islam masih berpikiran konservatif ortodoks terkait khilafah, itu sangat kontraproduktif dan mubazir, dan kita tau mubazir itu sahabat syeitan. Tidak ada gunanya sama sekali berhalusinasi dengan Khilafah.

Di zaman modern Khilafah berubah bentuk dengan silaturahmi dan kerjasama di antara negara-negara Islam/Muslim, untuk saling mendukung kepentingan dari setiap negara tersebut, dalam bentuk organisasi negara-negara Islam yang mendunia, seperti contoh OKI dan IDB,  demikianlah perubahan bentuk Khilafah di zaman modern, dan bisa di sebut organisasi negara-negara Islam di dunia ini sebagai Khilafah Moderat dalam pandangan Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang bijaksana.

Indonesia dengan penduduk dan wilayah terbesar bagi Umat Islam di dunia, sudah barangtentu bisa menjadi Khilafah Moderat, yaitu memimpin organisasi negara-negara Islam/muslim di dunia, untuk membuat tatanan dunia yang lebih baik, sehingga Islam betul-betul menjadi Rahmatan lil Alamin.

Prinsip dasar Khilafah Moderat ini, sudah di ajarkan secara gamblang di dalam Al-Qur’an, surat Al-Hujurat ayat 13 :

Wahai Manusia ! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (silaturahmi dan kerjasama)…

Berdasarkan semua ini jelas, bahwa Allah Swt., menghendaki Umat Islam itu menjadi Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang bijaksana, yang mampu memahami Al-Qur’an secara Kaffah, tidak hanya terkotakan dengan Radikalisme, pemahaman sempit dan banyak membuat masalah. Dan sesuai ramalan Rasullullah s.a.w., bakal terjadi kebangkitan Islam sekali lagi sebelum terjadinya kiamat, semua ini akan terjadi In Shaa Allah, manakala Umat Islam sudah sadar sesadar sadarnya akan fitrah penciptaannya sebagai Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang bijaksana.

Visi dan misi Barisan Islam Moderat (BIMA)

Sekarang Umat Islam sudah bermilyar jiwa, berbeda jauh dengan awal penyebaran Islam, berawal dari beberapa gelintir orang. Dengan kebesaran Umat Islam ini, sudah barangtentu menjadi modal besar untuk kebangkitan Islam, dan Barisan Islam Moderat (BIMA) dengan da’wah dan jihad fii sabillillahnya ingin menjadi garda terdepan untuk turut di dalam gerak langkah kebangkitan Islam ini, dan kuncinya sebagai Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang bijaksana harus menjadikan Sabar dan Shalat sebagai penolong, sesuai perintah Allah Swt., dalam surat Al-Baqarah ayat 153 :  Wahai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan Sabar dan Shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

Sistem di Indonesia dengan Pancasila dan UUD 1945, beserta turunan-turunan sudah sesuai dengan ISLAM, oleh karena itu kita semua Umat Islam tinggal saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, karena Umat Islam di Indonesia untuk Shalat wajib lima waktu saja, belum seluruhnya melaksanakan dengan baik, kita semua tinggal mendorong saling menasehati untuk tegaknya Keshalehan di dalam setiap diri Muslim, dan tentunya keshalehan adalah proses, tidak boleh di antara Umat Islam mudah menuduh kafir dan munafik, walau memang terlihat belum menjalankan kewajibannya, sebagai Umat Islam. Kita harus sadar, sesadar sadarnya bahwa Baldatun Thayibatun Wa Rabbun Ghafur, atau Masyarakat Adil dan Makmur, hanya bisa di capai dari perubahan diri dari setiap orang, sesuai firman Allah Swt., dalam Surat Ar-Ra’d ayat 11 : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah dirinya sendiri (masing-masing).

Dengan konsep da’wah yang alamiyah, ruhiyah dan ilahiyah inilah cita-cita Kebangkitan Islam bisa tercapai, dan jauhkan dari segala bentuk radikalisme yang menyesatkan dan menghancurkan. Na’udzubillah min dzalik.

Kita sesama Umat Islam siapapun dia, walau berbeda mahzab dan partai, harus selalu saling menyayangi, mengasihi dan mencintai, ibarat satu tubuh : _Kal jasadi Wahid_

Dan akhirul tulisan ini, Barisan Islam Moderat ( BIMA) mengajak kepada Umat Islam, mari kita semua banyak-banyak bersyukur dengan telah di berikan tempat berteduh Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar Pancasila dan UUD 1945, yang merupakan perwujudan dari Ruhiyah ISLAM, sehingga dengan banyak-banyak bersyukur ini, akan di tambah ni’mat oleh Allah Swt. Tapi jika kuffur ni’mat, justeru sebaliknya Allah Swt., akan menimpakan adzab kepada kita semua, dengan adzab yang sangat pedih.

La ingsakatum la adzidanakum, wala ingkafartum inna adzabi ladadid.

Sebagai tanda syukur, mari kita rapatkan Barisan untuk berda’wah dan berjihad fii sabillillah bersama Barisan Islam Moderat ( BIMA). Dengan lambang dan Bendera Tauhid yang menyejukkan hati, dengan mengangkat Asma Allah, yang di lingkari dengan rantai hatinya Umatan Wasaton/Islam Moderat/Orang-orang biaksana. Dan In Shaa Allah menjadi Rahmatan lil Alamin dengan perlambang lingkaran hitam. Aamiin YRA.

Allahu Akbar

- Advertisement -
- Advertisement -

Tetap Terhubung

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Bagus Dibaca

Sekjen PPJNA 98 : Sebagai Barisan Pendukung Jokowi Sejati, Moeldoko Jangan Mundur dari KSP, Lawan Terus Penghianat .. !

JAKARTA - Luar biasa ketokohan Moeldoko menjadi pembicaraan publik , tokoh yang tenang mantan Panglima TNI didaulat diminta para pendiri, senior dan anggota Demokrat...
- Advertisement -

Sekjen PPJNA 98 : Sindiran AHY Soal Jaket Demokrat pada Moeldoko, Memperjelas Lemahnya Kepemimpinannya AHY di Demokrat

JAKARTA - Menanggapi pernyataan AHY atas Jaket Demokrat yang dipakai Moeldoko saat pidato menerima kepercayaan sebagai Ketum Demokrat dari peserta KLB, pernyataan yang disampaikan...

Sekjen PPJNA 98 : SBY Vs Moeldoko, Jawaban Gusdur, 27 Juli dan Penggusuran Anas

JAKARTA - KLB Demokrat itu terjadi dipicu dari keresahan kegelisahan internal partai Demokrat, para senior dan pendiri Demokrat tidak punya arti apa apa tidak...

KLB Partai Demokrat di Sumut dan Terpilihnya Moeldoko Sebagai Ketum, Puncak Kejenuhan Dalam Kepemimpinan SBY & AHY

Oleh : Abdul Salam Nur Ahmad (Sekjen Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 - PPJNA 98) MEDAN - Ditengah Partai Demokrat menurun, gagal dalam pilkada...

Artikel Terkait

Sekjen PPJNA 98 : Sebagai Barisan Pendukung Jokowi Sejati, Moeldoko Jangan Mundur dari KSP, Lawan Terus Penghianat .. !

JAKARTA - Luar biasa ketokohan Moeldoko menjadi pembicaraan publik , tokoh yang tenang mantan Panglima TNI didaulat diminta para pendiri, senior dan anggota Demokrat...

Sekjen PPJNA 98 : Sindiran AHY Soal Jaket Demokrat pada Moeldoko, Memperjelas Lemahnya Kepemimpinannya AHY di Demokrat

JAKARTA - Menanggapi pernyataan AHY atas Jaket Demokrat yang dipakai Moeldoko saat pidato menerima kepercayaan sebagai Ketum Demokrat dari peserta KLB, pernyataan yang disampaikan...

Sekjen PPJNA 98 : SBY Vs Moeldoko, Jawaban Gusdur, 27 Juli dan Penggusuran Anas

JAKARTA - KLB Demokrat itu terjadi dipicu dari keresahan kegelisahan internal partai Demokrat, para senior dan pendiri Demokrat tidak punya arti apa apa tidak...

KLB Partai Demokrat di Sumut dan Terpilihnya Moeldoko Sebagai Ketum, Puncak Kejenuhan Dalam Kepemimpinan SBY & AHY

Oleh : Abdul Salam Nur Ahmad (Sekjen Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 - PPJNA 98) MEDAN - Ditengah Partai Demokrat menurun, gagal dalam pilkada...

LSM KKPS & Barikade 98 Gelar Sosialisasi BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan untuk pelaku UMKM se wilayah Kec.Nagrak.

S U K A B U M I - Para pelaku usaha kecil ultra mikro se wilayah Kecamatan Nagrak mendapatkan pemahaman tentang perlindungan kesehatan...
- Advertisement -