Beranda Opini KRIKIL TAJAM PARA JENDERAL, AKAR PERMASALAHAN PERPECAHAN PARTAI DEMOKRAT

KRIKIL TAJAM PARA JENDERAL, AKAR PERMASALAHAN PERPECAHAN PARTAI DEMOKRAT

- Advertisement -

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia (DMK ) – Mantan kader DPP Partai Demokrat.

O P I N I – Pergolakan Demokrat, sesungguhnya berawal dari Kongres JCC Senayan, bulan Maret 2020. Seperti biasanya manakala perhelatan politik yang syarat dengan rekayasa, dengan tidak memberikan ruang dan reserve bagi demokrasi, akan membuat resistensi semakin tinggi. Disinilah setiap pimpinan parpol di tantang kemampuannya untuk memanage konflik dengan sebaik mungkin agar tidak terjadi perpecahan. Jangan merasa sukses manakala rekayasa politik mampu memuluskan tujuan politiknya, karena residu politiknya pun sebetulnya harus diperhitungkan secara matang, di kelola dengan baik, agar tidak menjadi bumerang politik di kemudian hari. Ada dua masalah besar yang tidak di kelola oleh Partai Demokrat sehingga sa’at ini terpecah, yang pertama rekayasa politik yang terlalu ekstrim, dan kemudian tidak menyadari akan residu politiknya yang sangat pekat, menjadi bumerang politik bagi partai.

Perpecahan ini sudah saya sadari akan terjadi, manakala terjadi kejanggalan dari kebijakan partai, terhadap diri saya sendiri yang pada sa’at itu merupakan salah seorang kader DPP Demokrat peserta kongres JCC Senayan. Pada pembukaan dan penutupan kongres, saya sengaja duduk di jajaran terdepan agar bisa berkomunikasi dengan semua elit partai, terutama AHY calon kuat Ketua Umum Partai Demokrat. Di jajaran terdepan saya duduk berdampingan dengan Jhoni Alen Marbun yang menjadi panitia KLB deli serdang sekarang. Pada sa’at itu semua kader berbahagia melaksanakan Kongres Partai, yang sukses memuluskan AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang baru.

Pada sa’at kongres saya sempat berbincang-bincang dengan *AHY*, sengaja saya merapat untuk berbincang-bincang dengan dia, utamanya untuk memperkenalkan diri, bahwa saya ini adalah kader Demokrat yang menulis buku pegangan kader Demokrat; Biografi Singkat SBY, dan menjadi pengurus DPP dari sejak tahun 2009, berawal dari Ketua Biro Perencanaan Departement Pertahanan bersama para jenderal di Demokrat, dan kemudian setelah Kongres 2015 di Surabaya, saya ditetapkan sebagai Sekretaris Departement RISTEK dan DIKTI DPP Partai Demokrat, dalam perbincangan dengan AHY tersebut, di akhiri dengan memberikan buku Biografi Singkat SBY tulisan saya, yang menjadi pegangan setiap kader Demokrat.

Tepuk riuh rendah sorak sorai kongres JCC Senayan Jakarta, yang menetapkan AHY sebagai Ketua Umum, mengherankan bagi saya, karena tidak dihadiri para senior dan jenderal-jenderal yang menjadi anggota partai Demokrat, yang biasanya turut meramaikan setiap acara perhelatan Demokrat.

Keheranan saya ini, di ikuti dengan susunan pengurus harian DPP Partai Demokrat yang di pimpin AHY, memberangus hampir semua pengurus senior, termasuk para jenderal. Seperti kita ketahui bersama Partai Demokrat ini sejarah pendiriannya tidak terlepas dari para jenderal, banyak sekali jenderal-jenderal di partai Demokrat. Karena memang Ketua Umumnya adalah SBY adalah seorang Jenderal, dan dia menarik banyak sahabat-sahabatnya sesama jenderal. Saya sendiri sengaja masuk di Departemen Pertahanan, untuk menimba ilmu pertahanan, Lemhanas dan berkenalan dengan para Jenderal. Dan karena awalnya saya aktif di Departemen Pertahanan DPP Demokrat, dengan Ketuanya Mayjend (purn) Syamsul Maparepa, jenderal seangkatan SBY dan oleh teman-teman saya, suka di sebut dengan sapaan, nah inilah Jenderal ITB, karena saya lulusan ITB dan jadi ketua biro perencanaan Departement Pertahanan ĐPP Partai Demokrat.

Selain para senior dan para jenderal yang sudah tidak ada dalam struktur kepengurusan harian DPP Partai Demokrat, nama sayapun hilang dari peredaran. Sa’at itulah saya sudah menduga hal ini akan menjadi api dalam sekam dalam partai Demokrat, bersimbiosis dengan kekuatan-kekuatan lama yang sudah menumpuk kekecewaan, demi kekecewan. Dan yang terakhir kekecewaan berat terjadi terhadap para jenderal yang ada di tubuh partai Demokrat, mereka semua kecewa kepada SBY yang terlalu memaksakan anaknya AHY yang berpangkat Mayor menjadi Ketua Umum Partai. Mereka para jenderal sangat tersinggung harus di Ketuai oleh seorang mayor, makanya lebih baik tidak ada di dalam kepengurusan harian DPP Partai Demokrat. Dan memang AHY pun seperti membuat Partai Tanpa Jenderal, sehingga tidak ada anak buahnya yang berpangkat jenderal. Seperti Revolusi Libya, pangkat tertinggi menjadi kolonel, karena Khadafi berpangkat kolonel, dan tidak mau ada Jenderal di bawah dia.

Dan dugaan saya sekarang terjadi, dalam tempo satu tahun meledaklah perpecahan Demokrat ini, dan sesungguhnya akar masalahnya adalah kekecewan para jenderal, oleh karena itu bermuara kepada Jenderal Moeldoko, sebagai solusi untuk mengembalikan partainya para jenderal.

Saya sendiri sudah tidak kaget ketika terjadi perpecahan Demokrat ini, dan sudah tidak ambil pusing lagi, karena saya sendiri manakala tidak di pakai lagi oleh Partai Demokrat, ibaratnya habis manis sepah di buang, saya putar otak lebih ekstrim dari sekedar pemberontakan di partai, tapi saya sekarang akan memberanikan diri untuk mendirikan partai baru bernama PARTAI SUNDA NUSANTARA (PSN), alhamdullillah banyak tokoh yang menyambut baik, atas ide gagasan saya tersebut, dan sekarang saya sedang merumuskan ideologi partai ; Nasionalis, Religius dan Sunda, secara rinci dan detail, sebagai modal utama berdirinya sebuah partai yang In Shaa Allah akan bermanfa’at bagi bangsa dan negara tercinta INDONESIA.

- Advertisement -
- Advertisement -

Tetap Terhubung

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Bagus Dibaca

Aktivis 98 : Bravo TNI/Polri Telah Tembak Mati Lesmin Waker Teroris KKB Papua, Sebagai Spirit Bersihkan Papua dari Teroris

BANDUNG - Sebuah keberhasilan dalam operasi "Pasukan TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Operasi Nemangkawai menembak mati Komandan Pasokan Pintu Angin Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)...
- Advertisement -

ELANG MULIA LESMANA, GUGUR SEBAGAI PAHLAWAN REFORMASI 98, APA ESENSI HAKIKINYA ?

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia (DMK) - aktifis ITB '98 - Ketua Umum DPP Partai Sunda Nusantara (PSN) OPINI - Hari ini adalah tanggal...

PERNYATAAN SIKAP BARIKADE 98 JAWA BARAT, DAN FORGEMA 77/78, TENTANG PENYEGELAN SEFIHAK MESJID AHMADIYAH OLEH BUPATI KABUPATEN GARUT

BANDUNG - Tindakan Bupati Garut yang secara sefihak menyegel pembangunan Mesjid Ahmadiyah adalah pelanggaran terhadap konsitusi UUD1945 dan prinsip kebangsaan kita yang menjunjung tinggi...

DPN.Barikade 98 : KPK Harus Buktikan Integritasnya Tuntaskan Kasus BLBI, Hambalang, Century, Skandal Petral Tangkap Otaknya .. !!!

Jakarta - KPK sampai hari ini belum bisa menuntaskan kasus kasus Besar seperti, BLBI, Hambalang, Century, Petral tidak bisa menyelesaikan dengan benar, nama nama...

Artikel Terkait

Aktivis 98 : Bravo TNI/Polri Telah Tembak Mati Lesmin Waker Teroris KKB Papua, Sebagai Spirit Bersihkan Papua dari Teroris

BANDUNG - Sebuah keberhasilan dalam operasi "Pasukan TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Operasi Nemangkawai menembak mati Komandan Pasokan Pintu Angin Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)...

ELANG MULIA LESMANA, GUGUR SEBAGAI PAHLAWAN REFORMASI 98, APA ESENSI HAKIKINYA ?

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia (DMK) - aktifis ITB '98 - Ketua Umum DPP Partai Sunda Nusantara (PSN) OPINI - Hari ini adalah tanggal...

PERNYATAAN SIKAP BARIKADE 98 JAWA BARAT, DAN FORGEMA 77/78, TENTANG PENYEGELAN SEFIHAK MESJID AHMADIYAH OLEH BUPATI KABUPATEN GARUT

BANDUNG - Tindakan Bupati Garut yang secara sefihak menyegel pembangunan Mesjid Ahmadiyah adalah pelanggaran terhadap konsitusi UUD1945 dan prinsip kebangsaan kita yang menjunjung tinggi...

DPN.Barikade 98 : KPK Harus Buktikan Integritasnya Tuntaskan Kasus BLBI, Hambalang, Century, Skandal Petral Tangkap Otaknya .. !!!

Jakarta - KPK sampai hari ini belum bisa menuntaskan kasus kasus Besar seperti, BLBI, Hambalang, Century, Petral tidak bisa menyelesaikan dengan benar, nama nama...

Survai Kompas Jokowi Paling Layak Menjadi Presiden 2024, Sekjen PPJNA 98 : Kalau Rakyat Meminta, Jokowi Tidak Bisa Menolak !

JAKARTA - Walaupun Presiden Jokowi membantah tidak akan mencalonkan lagi 2024, namun hasil survai Litbang Kompas sebagai fakta Jokowi masih diharapkan seluruh rakyat untuk...
- Advertisement -